Sabtu, 04 Februari 2012

The Main Course : BROMO

Sabtu, 4 February 2012

Sampai di Hotel Bromo Permai sudah hampir jam 12.00 malam.  Macet banget dari malang karena hujan dan banjir di beberapa tempat yang membuat ELF harus perlahan menyusur jalanan naik ke Bromo. Kami beristirahat di Bromo Permai yang merupakan hotel pertama di kaki gunung Bromo dan penginapan dengan pemandangan Gunung Batok.  Dari teras kami bisa melihat G Batok yang seperti beledu hijau dengan pucuk terttutup awan (atau kabut ?)

Jam 4 pagi kami bersiap mendaki Penanjakan dengan jeep 4 wheel drive. satu jeep disewa seharga Rp. 500,000 untuk diisi dengan 6 penumpang. Suhu pagi itu mencapai 12derajad Celsius dan memaksa kami memakai legging dibawah celana jeans kami. Atasan rangkap 3, shawl, kaos tangan dan topi ponco tetap tak bisa melawan dingin dan rintik gerimis memaksaku untuk menyewa jaket tambahan di warung kopi seharga Rp. 10.000,-

Perjalanan dari Bromo Permai ke Pananjakan memakan waktu 55 menit dan terkocok-kocok di dalam Jeep.  Karena musim hujan maka pasir mengeras dan membentuk kubangan. Supir kami hanya memakai sarung dan sweater untuk melawan dingin. Namun tetap lincah memilih jalan menghindari patahan - patahan pasir yang mengeras.

untuk sampai di Penanjakan, kami harus berjalan kaki mendaki tangga semen yang nyaman selama 15 menit.  Di atas sudah terlihat banyak wisatawan dengan kamera berfoto dan berceloteh ria. Wajah-wajah muda mahasiswa berkelompok berfoto dengan berbagai pose dan memanggil saya tante, minta difoto agar  terlihat utuh di dalam kelompok mereka.

Gerimis dan kabut membuat kami tidak bisa melihat puncak Mahameru seperti di poscard.  Hanya terlihat kabut seputih kapas dibawah kami. Serasa terbang diantara awan.  Setelah foto sessi dalam grup Alste, kami pun turun dan menikmati kopi hangat, jagung bakar dan kentang goreng mentega yang ditusuk seperti sate. Satu tusuk berisi 4 kentang rebus kecil. yang dihangatkan dengan di goreng sebentar dengan sedikit mentega. hangat dan gurih.

Kembali dalam Jeep, kali ini kami akan menuju Kawah Bromo dan melihat pura Hindu yang dipakai sebagai tempat upacara keagamaan masyarakat Tengger. Turun dari Jeep disambut dengan penjaja kuda yang menawarkan jasanya mengantar kami sampai ke kaki kawah. Biaya Rp. 100.000 per kuda untuk trip pp.

Trik naik kuda adalah melemaskan badan dan mengikuti gerakan naik turun badan kuda saat kakinya melangkah. kalau kita kaku, akan pegal setelah selesai berkuda. Bapak pemilik kuda menuntun kudanya dengan telanjang kaki......hebat sekali fisik mereka.

Hasil obrolan sepanjang jalan dengan empunya kuda, perjalanan ke bromo paling ideal adalah akhir Feb -awal Maret karena masih ada gerimis. Air hujan akan meredam pasir melayang dan tidak kelilipan.  kalau kita naik Bromo saat musim panas, selain pasir yang mengganggu juga sangat panas dan membuat kulit gosong serta amplitudo suhu yang berjarak lebar yang membuat dingin lebih menggigit.

Kami salah timing karena awal Feb masih tinggi curah hujannya sehingga tidak bisa melihat sunrise di penanjakan. tetapi pemandangan di Padang Savana akan bagus hijau beledu. kalau musim panda, gunung Batok akan berubah menjadi coklat dan terlihat gersang

Perjalanan berkuda sekitar 1 jam dan kami pun sampai di kaki kawah.  Kuda ditambatkan menunggu kami naik dengan tangga. Mendaki 219 anak tangga pun dimulai. tangga lumayan curam dan oksigen semakin tipis membuat kami terengah-engah sampai di kawah. 

Karena Januari lalu kawah Bromo baru saja memuntahkan lahar, maka saat kami tiba, kawah terlihat mengecil namun dalam. Bulat seperti sumur dengan dinding pasir miring seperti corong. Puas aku rasanya bisa melihat ciptaan alam ini dan merasakan sensasinya.  Foto bersama, foto sendiri dalam aneka sudut pengambilan. Indah sekali dengan selimut matahari pagi yang lembut hangat. Hujan gerimis berhenti saat kami berkuda dan menyapu kabut makin ke atas memperlihatkan kaki G. Batok yang hijau rata menyejukan mata. Kabut makin naik dan menipis, seperti tabir putih terangkat ke atas memperlihatkan pemandangan hijau rata menyejukkan mata.  Hanya ucapan syukur di batin karena diberi rejeki dan kesempatan berwisata dan mengenyam kegembiraan ini.

Lapar melanda dan kami pun menikmati nasi jagung dan pecel Madiun di tempat pemberhentian Jeep. Sayuran rebus bahan pecel serasa keluar dari kulkas. Namun tetap terasa nikmat karena suasana tenang dengan teman-teman yang kita sukai. belum pernah makan nasi jagung sebelumnya. Pengalaman yg sempurna.

naik Jeep lagi selama 20 menit menuju balik kawah Bromo. Sepanjang perjalanan perdu rumput setinggi paha orang dewasa dengan bunga ungu dan kuning sangat memanjakan mata. beruntung sekali aku duduk di samping supir sehingga pemandangan lurus ke depan dan puas melihat dinding hijau dengan bunga rumput di kanan dan kiri jalan. Serasa di Swiss saat musim semi.....serasa di kaki Alpen.  Ga nyana kalau ada pemandangan bukit hijau rata seperti wall paper di Indonesia dengan pakaian musim dingin.

Berfoto dengan background jeep, berkostum baju musin dingin lengkap di tengah hamparan rumput dan siraman sinar matahari pagi.......ga bisa dilukiskan dengan kata-kata deh.....serasa bukan Indo bangeuds dech....Tak puas rasanya mandi hangatnya sinar matahari dengan semilir dingin angin di pipi dan joke temen-temen yang kocak......(sejenak melupakan pekerjaan dan segala target serta closing sales......)

Belum puas di Padang Savana, kita sudah dikejar waktu dan harus menikmati pasir berbisik.  Area ini masih disekitar kaki kawah Bromo.  Dengan jeep sekitar 10 menit sampai di dataran luas dengan batas depan G Batok dan belakang kami G. Bromo. luaaaassss banget dan datar. pasir memadat dengan jalur bekas jeep terlihat eksotis......di depan terlihat motor melintas dengan beban karung rumput dan karung bahan pokok lainnya (ojeg yang disewa oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Merupakan alat transportasi yang praktis di padang pasir). Ojeg ini membawa beras dan ikan asin serta tabung gas.....

Jam 12 siang kami kembali ke penginapan Bromo Permai untuk mandi dan check out b- alik menuju Malang.  langsung menuju Batu Spectakular Night yang merupakan hiburan malam di kota Batu.  kami pun membeli tiket masuk seharga Rp. 10,000 untuk melihat Lampion Garden.  (lagi-lagi entrance fee yang murah dibandingkan atraksi yang kami lihat)

Lampion garden adalah theme park dimana semua wahana dibuat dari lampion dengan lampu di dalamnya. Di pintu masuk dipajang kurcaci dengan Puteri Putih Salju dan disambung dengan kuda laut, dolphin dan aneka ikan hias. cantik banget lampu warna warni berbentuk aneka figurin terkenal ini. Selanjutnya ada miniatur menara Eiffel dengan swan lake di sekitarnya dan bangunan mirip kremlin dengan kubah-kubah ungu.  Lampion Flamingo berwarna pink berjajar di sudut taman ini menjadi favorit saya.  di pintu keluar berjajar bunga ester ungu dan lampion naga serta rusa yang bagus tata letaknya di atas bukit buatan

Penutup malam ini adalah karaoke dan pisang goreng di dalam batu Spectacular Night......
thanks all friend......pengalaman yang tak terlupakan








Tidak ada komentar:

Posting Komentar